music

Thursday, February 9, 2012

Submit a photo of your interpretation of "Energy" to win cash prizes from Petronas!

This Chinese New Year, Petronas invites you to take photographs that will bring the theme "Reimagining Energy" to life. Capture the energy of CNY and stand a chance to win cash prizes. Contest runs from 17th January 2012 to 12th February 2012.

Greeting cards for Valentines' Day is no longer cool. Try meme instead.

Generate the most creative Valentine's meme and caption and stand a chance to win a designer perfume worth up to RM200!

Get an iPhone 4S when you sign up for an AmBank Credit Card ONLINE now

From now until 30th April 2012, Ambank is giving away an iPhone 4S to every 20th approved applicant who signs up for an AmBank or AmIslamic Bank credit card. Just sign up online, it's that easy.



Michael Schumacher might be 43 years old, but he still has a tip-top fitness for motor racing. What is his secret?

They say to be good at what you do, you have to learn from the best and who better to learn from than the Reigen Meister himself? Watch Jazeman Jaafar, our very own PETRONAS Motorsports Talent Development Driver in London as he chats with Michael Schumacher on what it takes to be a World Champion”

Tuesday, February 7, 2012

SIAPA YANG AKAN MENSOLATKAN JENAZAHMU KELAK?



                                                             Saudaraku...,

- Siapa yang akan memandikanmu?
- Siapa yang akan mengafankanmu?
- Siapa yang akan mengangkat kerandamu?
- Siapa yang akan mensolatkanmu?
- Siapa yang akan meletakkanmu di liang lahad?
- Siapa yang akan mendo’akanmu?
- Siapa yang akan berdiri di sisi kuburanmu, berdo’a untukmu agar Allah meneguhkanmu ketika malaikat menanyamu?

Jawablah saudaraku!
Siapa yang akan menangisimu?
- Apakah perokok itu?
- Ataukah orang yang tidak mau tunduk dan solat kepada Robbnya ini?
- Ataukah orang yang meninggalkan puasa dan zakat ini?
- Ataukah orang yang membiarkan isteri dan anak perempuannya bebas berkeliaran di jalanan dan tempat hiburan dengan penampilan yang buruk dan pakaian yang hampir telanjang? Orang yang rela dirinya menjadi seorang dayus?
- Ataukah orang yang bergelumang maksiat dan dosa besar?
- Ataukah orang yang tidak memalingkan pandangannya dari wanita bukan muhrim, memandangnya seakan-akan menelanjanginya dengan matanya?

Saudaraku, siapa orang yang engkau inginkan menangisi kematianmu?
- Apakah temanmu yang mengajakmu ke tempat-tempat minuman keras, ataukah orang yang mengajakmu ke majlis-majlis ilmu?
- Atau orang yang kalau berbicara, tema pembicaraannya denganmu adalah berita-berita artis, bintang film, penari dan penyanyi, serta menyampaikan kepadamu berita-berita cabul dan keji, ataukah orang yang kalau berbicara kepadamu mengatakan,; Allah berfirman .. Rasulullah bersabda?
- Atau orang yang mengajakmu ke tempat hiburan, pantai, sinema dan menghabiskan waktu dengan menonton television serta perlumbaan-perlumbaan ataukah yang mengajakmu ke taman-taman surga?
- Apakah orang yang mengajak atau bersamamu main domino, catur dan tenis ataukah orang yang membukakan untukmu lembaran-lembaran Mushaf Al Qur’an?

Saudaraku
Siapa teman dekat dan sahabat akrabmu? Kami bantu engkau untuk memilih sahabat atau teman yang akan mensolatkan jenazahmu esok.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu laksana berteman dengan penjual minyak wanig dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi engkau bisa membeli darinya atau setidaknya mendapatkan aromanya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap”. (HR. Bukhari)

Cuba engkau renungkan buah dari persahabatan yang baik dengan orang yang baik di dunia sebelum manfaatnya di akhirat!

sumber : Biaqpila


p/s : Dari Dia Kita datang dan KepadaNyalah Kita akan Kembali....Setiap Yang Hidup pasti akan menemui kematiannya...Hanya Allah Yang Maha Mengetahui...

Saat Nabi Hampir Wafat


Posted by harith

Terdapat sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan RasulNya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Ketika itulah, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah:

"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya. Maka taati dan bertakwalah kepadaNya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-samaku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah saw. yang tenang dan penuh minat menatap sahabat-sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap baginda dengan mata yang berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah saw. akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah saw. yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah saw. masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 
"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah saw. menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," kata Rasulullah saw..

Fatimah menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri Rasulullah lalu Baginda menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat penghantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi. "
Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. 
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" – "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai dirinya sebagaimana Baginda mencintai kita?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Semoga kita hargai segala pengorbanan Rasulullah SAW.

Air Mata 12 Rabiul Awal


http://lobaitampin.blogspot.com

  


Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam mulai sakit

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam mulai gering. Baginda bertanya kepada isteri-isterinya: “Giliranku esok di mana? “Di mana aku esok?”.

Isteri-isteri yang penuh kasih sayang memberikan pilihan kepada suami yang tercinta, untuk memlih di mana saja dia ingin berada. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam memilih rumah si pipi merah, Aisyah binti Abu Bakar Radiallahu ‘anhu.  Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam menghabiskan sisa-sisa hujung kehidupannya di rumah ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu..

Di rumahnya, ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu membacakan surahal-Falaq dan an-Nas serta doa-doa yang dihafalnya, sambil meniupkan ke seluruh tubuh baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam. Begitu kasihnya ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam.

Wasiat baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam
Sayangnya nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Di saat akhir kehidupannya, lima hari sebelum nyawanya diambil, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam meninggalkan pesanan yang mungkin dilupakan oleh ramai umatnya di zaman kini. Pesanan baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam berbunyi:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid”.  Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam meneruskan nasihatnya: “Jangan kalian jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah”.

Empat Hari Sebelum Saatnya Tiba
Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam tetap mengimami solat berjemaah sehinggalah solat maghrib pada hari keempat sebelum ajalnya tiba. Menjelang Isya’, sakit baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam semakin mencengkam. Sakitnya itu tetap tidak menghalang Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam daripada mengambil berat tentang solat Jemaah umatnya. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam berkata:

“Adakah semua orang telah mendirikan solat?”

Jawab para sahabat: “Belum wahai Rasulullah, mereka sedang menunggumu.”

“Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam berkata: Sediakan bekas air untuk ku.” Lalu para sahabat melakukannya, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam cuba menyegarkan dirinya dengan air tersebut. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam cuba bangun, tetapi tidak mampu. Sakit masih mencengkamnya. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam jatuh pengsan.

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam terjaga, lalu bertanya:

“Adakah semua orang telah mendirikan solat?”

Para sahabat menjawab: “Belum wahai Rasulullah, mereka sedang menunggumu.”

Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam menyegarkan lagi dirinya dengan air, tetapi masih tidak terdaya. Baginda bertanya lagi berulang kali:

“Adakah semua orang telah mendirikan solat?”

Sahabat Radiallahu ‘anhu yang ada memberikan jawapan yang sama: Belum wahai Rasulullah, mereka sedang menunggumu.

Berulang kali soalan itu ditanya oleh nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam terlalu gering, tidak mampu untuk mengimami solat, walau sudah berulang kali baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam berusaha menyegarkan badannya. Akhirnya, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam menyuruh Abu Bakar Radiallahu ‘anhu mengimami solat menggantikan baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam.  Abu Bakar Radiallahu ‘anhu memikul amanah itu, semenjak hari itu, dia telah mengimami sebanyak tujuh belas kali solat fardhu.

Senyuman Subuh Terakhir

Umat Islam sedang mendirikan solat Subuh bersama Abu Bakar Radiallahu ‘anhu. Tiba-tiba Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam menyingkap tabir di bilik ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu lalu memandang ke arah mereka. Baginda tersenyum dan tertawa.

Abu Bakar Radiallahu ‘anhu dengan penuh hormat mengundurkan dirinya kerana menyangka Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam ingin bersolat bersama mereka.

Kerana terlalu gembira, para sahabat sehingga mahu berhenti solat ketika itu. Tetapi Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam memberikan isyarat agar solat diteruskan. Kemudian baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam masuk semula ke dalam biliknya, dan menutup tirainya.

Tangisan dan ketawa Fatimah Radiallahu ‘anhu

Pagi itu, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam membisikkan sesuatu di telinga Fatimah Radiallahu ‘anhu. Fatimah menangis mendengarnya. Kemudian nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam memanggil puterinya sekali lagi, lalu berbisik. Kali ini Fatimah ketawa keriangan.

Aisyah Radiallahu ‘anhu dan isteri yang lain kehairanan lalu bertanya kepada Fatimah Radiallahu ‘anhu.  Dia menjawab:

“Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam membisikkan kepada ku bahawa baginda akan wafat dengan sakit yang dihadapinya, lantas aku pun menangis. Kemudian baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam membisikkan kepada ku bahawa akulah ahli keluarganya yang pertama akan menyusul selepasnya, aku pun ketawa.
Fatimah Radiallahu ‘anhu puteri Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam berasa kasihan kepada ayahnya yang kesakitan, lalu dia berkata kepada ayahnya:

“Alangkah deritanya ayah..”

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Selepas ini tiada lagi penderitaan ke atas ayah mu.”

Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam meninggalkan nasihat buat umatnya: “Jagalah solat, jagalah solat, dan hamba-hamba yang dimiliki.”

Di atas pangkuan ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam berada dalam pelukan isteri tercinta, ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu.  Saudara lelaki ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu, Abdul Rahman bin Abu Bakar muncul sambil membawa sebatang kayu sugi.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam memandang ke arah Abdul Rahman. Si isteri tercinta memahami isi hati suaminya. ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu tahu nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam ingin kan kayu sugi tersebut. 

‘Aisyah Radiallahu ‘anhu bersuara:

“Mahukah aku ambilkan kayu sugi untukmu?”. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam menganggukkan kepala setuju.

‘Aisyah Radiallahu ‘anhu mengambil kayu sugi, lalu menghulurkannya kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam. ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu menyedari kayu sugi itu terlalu keras, lalu dia mengambilnya kembali. 

Dia bertanya lagi:

“Mahukah jika aku lembutkannya untuk mu?”. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam mengangguk tanda bersetuju.

Lalu, ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu melembutkan kayu sugi itu dengan menggigit-gigit hujungnya. Lalu ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu memggosokkan giri Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam dengan kayu tersebut.
Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam wafat atas pangkuan ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu, dengan bersatunya air liur ‘Aisyah Radiallahu ‘anhu dan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam.

Akhirnya…

Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam berasa sakit. Baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam mencelup tangannya di dalam air, kemudian menyapu mukanya, lalu berkata: Tidak ada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya pada kematian itu ada kesakitan.

Selesai sahaja bersugi, baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam mengangkat tangan atau jarinya ke langit, lalu menyebut: “Bersama orang-orang yang engkau berikan nikmat kepada mereka, daripada kalangan nabi-nabi, siddiqin, syuhada’ serta solihin. Ya Allah, ampunilah diri ku, rahmatilah diri ku. Temukanlah aku dengan Teman Yang Tertinggi, Ya Allah Teman Yang Tertinggi”.

Tangisan Para Sahabat

Anas bin Malik Radiallahu ‘anhu berkata:  Tidak pernah aku melihat hari yang paling baik dan berseri-seri melainkan hari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam sampai kepada kami, dan tidak pernah aku melihat hari yang paling buruk dan gelap melainkan pada hari kewafatan nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam.

Berita kematian nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam tersebar, tangisan tidak tertahan lagi. Air mata sahabat bercucuran.

Fatima, puteri Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam Radiallahu ‘anhu berkata: Duhai ayahanda kesayanganku, yang telah menyahut panggilan Tuhannya, duhai ayahanda kesayanganku, syurga Firdaus tempat kembalinya, duhai ayahanda kesayanganku, kepada Jibril kami sampaikan berita kewafatannya.

Umar Radiallahu ‘anhu hilang pertimbangan, kecintaannya kepada nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam membuatkan dia seakan tidak sedar apa yang dia katakan. Umar Radiallahu ‘anhu berteriak dengan suara yang lantang:

“Ada orang-orang munafiq yang mendakwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam telah wafat. Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam tidak mati, tetapi baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam pergi bertemu Tuhannya sebagaimana Musa bin ‘Imran yang menghilangkan diri daripada kaumnya selama empat puluh hari. Kemudian dia kembali semula kepada kaumnya setelah orang berkata dia telah mati. Demi Allah! Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam akan kembali dan memotong tangan dan kaki orang yang mengatakan baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam telah mati!”.

Abu Bakar Radiallahu ‘anhu bergegas pulang tatkala mendengar berita kematian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam. Dibukanya kain yang menutupi nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, dipeluk dan diciumnya nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam.

Abu Bakar menenangkan umat..

Umar Radiallahu ‘anhu masih lagi mengungkapkan kata-katanya tadi. Abu Bakar Radiallahu ‘anhu berkata kepada Umar Radiallahu ‘anhu: “Duduklah Umar!”. Tetapi Umar Radiallahu ‘anhu enggan untuk mendengar arahan Abu Bakar Radiallahu ‘anhu.

Abu Bakar Radiallahu ‘anhu terus berkata: “Sesiapa di kalangan kamu yang menyembah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam, sesungguhnya Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam telah mati. Sesiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Hidup dan tidak mati.” Beliau terus  membaca surah Ali Imran, ayat 144:

Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sudahpun didahului oleh beberapa orang Rasul (yang telah mati atau terbunuh). Jika demikian, kalau ia pula mati atau terbunuh, (patutkah) kamu berbalik (berpaling tadah menjadi kafir)? Dan (ingatlah), sesiapa yang berbalik (menjadi kafir) maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan (sebaliknya) Allah akan memberi balasan pahala kepada orang-orang yang bersyukur (akan nikmat Islam yang tidak ada bandingannya itu).

Para sahabat terpaku. Mereka tersedar daripada lamunan mereka. Mereka mulai sedar hakikat nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam telah meninggalkan mereka. Kata-kata Abu Bakar Radiallahu ‘anhu menyentap jiwa mereka yang sedang kesedihan, mengambalikan mereka kepada kewarasan.
“Demi Allah! Seakan-akan manusia tidak mengetahui bahawa ayat ini pernah diturunkan sehinggalah Abu Bakar membacanya. Lalu semua orang mengambil ayat itu daripada Abu Bakar. Lantas semua orang yang mendengar ayat itu dibaca, turut membacakannya”, demikian kata Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhu.

Umar Radiallahu ‘anhu yang tadi terlalu sedih hingga mengeluarkan kata-kata yang yang menggoncang akidah umat Islam, tersedar daripada kesilapannya. Ayat itu menyentap jiwanya kembali, menenangkan kembali hatinya yang sedang berkecamuk:

“Demi Allah, sebaik sahaja aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku menjadi lemah longlai sehingga tidak berdaya untuk berdiri. Akhirnya aku rebah ke bumi apabila mendengar Abu Bakar membacakannya. Maka yakinlah aku, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam telah wafat”.

[Ringkasan daripada ar-Rahiq al-Makhtum susunan Shaikh Safiyurrahman al-Mubarakfuri. Edisi terjemahan bertajuk Sirah Nabawiyyah terbitan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (YADIM)]
---------------------

Akhirnya 12 Rabi’ul Awal tahun 11 Hijrah, hari Isnin, perginya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam meninggalkan umatnya.

Mana mungkin umatnya tidak menangis tatkala baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam meninggal dunia, sedangkan ketika hidupnya baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam menempuh 1001 ujian dan seksaan hanya kerana menyampaikan Islam kepada umatnya.

Bagaimana nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam yang sebelumnya dipercayai oleh semua penduduk Mekah, akhirnya ditolak dan dicerca tatkala berdiri di Bukit Safa, menyeru kaumnya kembali kepada Allah.

Bagaimana mungkin kita lupa, ketika nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam sedang sujud di Masjidil Haram, lalu kaum musyrikin meletakkan najis dan kotoran di atas batang tubuh nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam. Lalu munculnya Fatimah Radiallahu ‘anhu menangis sambil membersihkan tubuh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam.

Bagaimana kita boleh lupa, nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam ketika pertama kali mengajak penduduk Madinah kepada Islam, baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam dibalas dengan lontaran batu. Setiap penjuru jalan yang baginda Sallallahu ‘alaihi wassalam lalui, kanak-kanak, hamba dan kaum wanita menanti sambil melemparkan batu-batu ke arah nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam. Lalu malaikat menawarkan tawaran untuk memusnahkan mereka yang menyakiti nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, tetapi nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam menolak tawaran itu, kerana masih yakin akan datang masanya generasi kemudian menerima dakwah beliau.

Bagaimana kita boleh lupa…………….